PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HIGTHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) DI SDI BEITAUS KECAMATAN RAIHAT KABUPATEN BELU
Case and Fair Edisi 8 Resume
Semua
analisis ekonomi berhubungan dengan masalah menentukan pilihan pada kondisi kelangkaan,dan masalah pemenuhan keinginan
serta kebutuhan manusia.hal ini berlaku bagi
somalia dan haiti,juga berlaku bagi Amerika serikat,jerman,dan
jepang.kelangkaan universal menjadikan
analisis ekonomi relevan dengan semua bangsa tanpa memandang tingkat kesejahteraan materi atau ideologi politik
utama mereka.
Perangkat
dasar peawaran dan permintaan teori konsumen dan perusahaan, serta teori
struktur pasar,semua berkontribusi
pada pemahaman masalah ekonomi yang di hadapi oleh negara- negara berkembang di dunia. Akan
tetapi,negara-negara ini sering menghadapi masalah ekonomi yang sangat berbeda dengan yang dihadapi
oleh negara-negara kaya dan lebih maju. Dinegara- negara berkembang, para ekonom harus memikirkan bencana
kekurangan makanan yang kronis, pertumbuhan populasi yang meledak,dan hiperinflasi
yang mencapai tiga, bahkan empat digit.
Kehidupan Dinegara
Berkembang : Masalah
Populasi Dan Kemiskinan
Pada
tahun 2006 populasi dunia telah mencapai lebih dari 6,5 miliar jiwa.sebagian
besar dari sekitar 200 negara
didunia adalah negara berkembang, di mana sekitar tiga perempat populasi dunia berbeda.
Di
awal tahun 1960-an negara-negara di dunia bisa di kategorikan ke dalam : negara
maju yang meliputi sebagian besar
eropa, amerika utara, jepang, australia, dan selandia baru; negara berkembang yang meliputi negara lain di
dunia. Negara-negara berkembang sering disebut
dengan dunia ketiga untuk membedakan nya dengan negara-negara industri
barat (dunia pertama) dan bekas blok
sosialis negara eropa timur (dunia kedua). Kehidupan dinegara-negara berkembang merupakan perjuangan
berkelanjutan melawan kondisi kemiskinan, dan prospek perbaikan dramatis dalam standar hidup sebagian besar orang
masih suram. Namun, pengecualian
selalu ada, beberapa negara lebih beruntung dari pada lain nya, dan di tiap
negara tertentu kelompok elit selalu
hidup dengan kemewahan berlebihan.
Pembangunan Ekonomi
: Sumber Dan Strategi
Sumber
pembangunan ekonomi
Ada
beberapa faktor dasar yang membatasi pertumbuhan ekonomi negara,hal ini
meliputi : pembentukan modal yang tak memadai, kurangnya kemampuan kewirausahaan dan sumber daya manusia, kurang nya modal biaya hidup
sosial sehari-hari, dan kendala yang di sebabkan oleh ketergantungan pada negara yang sudah maju.
Strategi pembangunan ekonomi
Banyak
strategi pembangunan alternatif yang telah di usulkan selama ini. Meskipun
strategi ini sangat berbeda, semua
semua mengakui bahwa perekonomian berkembang mengalami dilema mendasar. Kurangnya sumber daya fisik
maupun sumber daya manusia menegaskan bahwa pilihan
harus di tetapkan, yang meliputi antara industri dan pertanian, antara
subtitusi impor dan ekspor, serta antara perencanaan sentral dan pasar
bebas.
Pertumbuhan Versus
Pembangunan : Siklus Kebijakan
Studi
bank dunia menunjukkan bahwa peningkatan perkapita tidak menjamin perbaikan signifikan dalam indikator pembangunan
manusia seperti nutrisi, kesehatan, dan pendidikan. Meskipun GDP per kapita memang meningkat manfaat nya hanya
menetes pada sebagian kecil dari
populasi. Keberhasilan yang sangat terbatas ini mendorong strategi pemangunan
baru yang akan langsung mengenai
masalah kemiskinan. Strategi baru seperti itu lebih memilih sektor pertanian dari pada industri, menuntut
redistribusi domestik pendapatan dan kekayaan
(khususnya tanah) dan mendorong program untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti pangan dan papan.
Di
akhir 1970-an dan awal 1980-an krisis ekonomi makro internasional mengenai
harga minyak yang tinggi,resesi
dunia, dan utang dunia ketiga lebih disoroti dari pada program pengentasan kemiskinan secara langsung. Lalu,selama
1980-an dan 1990-an ,fokus kebijkan berputar 180 derajat. Bank dunia dan Amerika serikat mulai menuntut
“penyesuaian strutural” di negara berkembang
sebagai prasyarat pengiriman bantuan pada mereka. Program penyesuaian
struktural menuntut pengurangan
ukuran sektor publik melalui privatisasi dan/atau pengurangan pengeluaran, yang secara substansial
memotong defisit anggaran, mengatasi inflasi, dan mendorong tabungan swasta serta investasi dengan reformasi
pajak. Tuntutan propasar ini adalah upaya
untuk mendorong pertumbuhan; masalah distribusi pendapatan tidak menjadi
prioritas utama.
Persoalan Pembangunan Ekonomi
Populasi
negara berkembang di estimasi tumbuh sekitar 1,7 persen per tahun.jika tingkat pertumbuhan populasi dunia ketiga tetap
berada pada tingkat 1,7 persen,dalam kurunwaktu 41 tahun populasi nya akan berlipat kali ganda dari jumlah populasi
pada tahun 1990 sebesar 4,1 miliar
menjadi lebih dari 8 miliar menjelang akhir tahun 2031. Disisi lain, perlu 139
tahun bagi negara industri untuk
melipatgandakan populasi mereka. Yang menjadi kekhawatiran terbesar adalah bahwa dengan masalah ekonomi saat
ini yang di alami negara-negara berkembang, akan sulit membayangkan bagaimana mungkin mereka bisa menyerap begitu
banyak tambahan penduduk dalam
periode yang relatif pendek. Penyebab pertumbuhan populasi yang cepat ditentukan oleh hubungan antar kelahiran
dan kematian yaitu antara tingkat fertilitas dan tingkat mortalitas .tingkat pertumbuhan populasi alami didefinisikan
sebagai selisih antara tingkat kelahiran
dan tingkat kematian. jika tingkat kelahiran adalah 4 persen,misalnya, dan
tingkat kematian adalah 3 persen,
populasi tumbuh pada tingkat 1 persen
pertahun.
Perekonomian Dalam Transisi
Perang Dingin ini memisahkan dua kekuatan adidaya
yang saling berhadapan untuk mendapatkan
pengaruh dan memicu perlombaan Senjata nuklir. Pada tahun 1989, revolusi Yang relatif damai terjadi berturut-turut di
Polandia, Hungaria, dan Cekoslowakia . Revolusi berdarah di Romania menurunkan Nicolae Ccausescu, yang telah memerintah
dengan tangan besi selama 24 tahun,
Tembok Berlin, yang telah memisahkan Berlin sejak 1961, diruntuhkan dan Jerman bersatu kembali, Lalu, pada Agustus 1991,
setelah upaya kudeta yang gagal oleh Komunis garis keras, Uni Sovict sendiri mulai bubar, Pada akhir 1991, Uni
Soviet terpecah menjadi 15 negara merdeka,
yang terbesar adalah Republik Rusia. Di beberapa negara, seperti Serbia dan
Bosnia- Herzegovina, reformasi
ekonomi berada di belakang permusuhan politik dan etnis yang kejam serta pahit yang telah bergolak selama
berpuluh tahun.
Di negara lain,
seperti Polandia dan Rusia,
persoalan terbesar yang terus berlanjut
adalah transformasi ekonomi.
Di negara negara ini, orang yang sebelumnya cukup sejahtera tiba tiba mendapatkan pendapatan riil tahunannya mendekati pendapatan orang orang di negara berkembang. Optimisme yang tumbuh terlihat
meluas. Maraknya konstruksi,
pembangunan infrastruktur yang cepat,
inflasi rendah, dan ekspor yang naik semua berkontribusi pada keberhasilan wilayah ini.
Akan tetapi, situasi Jerman Timur itu unik karena
diserap oleh Jerman
Barat yang modern, sejahtera, dan benarbenar maju yang menjadikan pembangunan di Jerman Timur sebagai
tujuan
utamanya. Eropa Tengah, yang meliputi Hungaria, Polandia, Republik Ceko, Bulgaria, dan Romania juga mencapai
stabilitas ekonomi makro dasar dan mulai tumbuh pada tahun 1993 dan 1994. Digerakkan oleh investasi asing, privatisasi, dan kewirausahaan, sektor swasta Polandia pada 1992 menyumbang lebih
dari sepertiga output total negara ini, meskipun
banyak masalah yang tetap berlanjut.
Sayangnya,
dimensi ekonomi dan politik suatu negara sempat
membingungkan. Istilah demokrasi dan kedikratoran menyasar
pada Sistem politik
Demokrasi adalah sistem
pemerintahan di mana kekuatan akbar ada di tangan rakyat, yang mengambil keputusan pemerintahan langsung melalui pengambilan suara atas tak langsung melalui
bedan perwakilan, Kediktatoran
adalah sistem politik di mana kekuatan akhir terkonsentrasi kelompok elit yang kecil atau pada satu orang tunggal.
Kepemilikan sosial adalah isilah lain yang digunakan untuk mendeskripsikan jenis
sistem ini. Ekonomi kapitalis adalah ekonomi di mana sebagian besar modal dimiliki oleh swasta, Di Juar sistem ini
ada sistem ekonomi teoretis murni yang
disebut dengan Komunisme.
Runtuhnya Uni Soviet
Tidak
ada perdebatan serius tentang persoalan ekonomi yang terjadi di Uni Soviet
hingga setelah kematian Josef Stalin
tahun 1953. Pada tahun 1965, teformasi Tesmi diperkenalkan oleh pemerintahan Alexei Kosygin. Mikhail
Gorbachev mengumumkan inreformasi pada 1986 dan 1987, namun struktur perekonomian tidak berubah secara
fundamental. Meskipun ide Gorbachev terlihat menjanjikan, situasi di Uni Soviet merosot
tajam setelah 1987. Upaya transisi
dari perencanaan terpusat
menjadi sistem pasar yang sebagian terbuka menimbulkan masalah besar. Pertumbuhan output hanya merangkak
di tahun 1989 dan 1990, dan pada 1991 sistem perekonomian
ambruk. Produksi industri turun tajam, kekurangan makanan makin memburuk, inflasi melonjak drastis dan utang eksternal naik pesat. Gorbachev
kehabisan waktu pada Agustus 1991, sewaktu pertarungan antara garis keras dan reformis
radikal mengemuka.
Transisi Menuju
Perekonomian Pasar
Reformasi
yang berlangsung di Republik Rusia dan di eks-negara-negara Komunis lain di Eropa Timur berjalan sangat lambat dan
berada di tengah perdebatan tentang seberapa baik reformasi ini bisa berlanjut.
Enam Syarat
Dasar Transisi Yang Sukses
Para ekonom umumnya sepakat
tentang enam syarat untuk transisi
yang sukses dari Sosialisme menuju sistem berbasis
pasar: stabilitas ekonomi
makro, deregulasi harga dan liberalisasi perdagangan, privatisasi usaha yang dimiliki
negara dan pengembangan industri swasta
baru: pendirian lembaga pendukung pasar seperti undang-undang kontrak dan hak
milik, sistem akuntansi, dan
sebagainya, jaring Pengaman sosial untuk menangani pengangguran dan kemiskinan: dan bantuan eksternal.
Sekarang kita akan membahas
masing-masing komponen. Meskipun
kita berfokus pada pengalaman
Republik Rusia, prinsip ini bisa diterapkan pada semua perekonomian lam
transisi. Stabilitas Ekonomi Makro Nyaris
tiap orang di negara-negara yang menjalani transisi ekonomi menghadapi masalah inflasi, tetapi tidak
ada yang seburuk Rusia. Sewaktu kondisi ekonomi memburuk, pemerintah menghadapi masalah anggaran yang serius.
sewaktu aliran penerimaan melambat
dan pengeluaran meningkat, terjadi defisit anggaran yang besar. Pada saat yang
sama, tiap republik baru mendirikan bank sentralnya sendiri.
Tiap bank sentral
mulai menerbitkan «kredit rubel» untuk
mempertahankan agar sektor usaha penting tetap berjalan dan membayar tagihan pemerintah. Penerbitan kredit ini,
yang umumnya diterima sebagai sarana pembayaran di seluruh negara, menyebabkan ekspansi tawaran uang yang
dramatis.
Sejak
awal, bertambahnya penawaran uang mengakibatkan ada terlalu banyak yang
tersedia tetapi terlalu
sedikitnya barang yang ada. Hal ini diperburuk oleh harga dikontrol
oleh pemerintah yang ditetapkan jauh di bawah tingkat ekuilibrium pasar. Kombinasi ekspansi
moneter dan kontrol
harga bersifat mematikan. Toko yang dioperasikan pemerintah yang menjual barang pada harga yang terkontrol
kosong melompong. Orang-orang mengantre selama
berhari hari dan sering mengamuk ketika usaha mereka membeli parang pada
harga resmi yang rendah tidak terpenuhi. Pada saat yang sama, para pemasok merasa bahwa mereka bisa menetapkan harga yang lebih tinggi untuk
produk mereka di pasar gelap—yang tumbuh semakin besar, yang makin memperburuk kelangkaan barang di toko-toko
pemerintah. Dari waktu ke waktu,
rubel makin kecil nilainya sewaktu harga pasar gelap terus naik lebih cepat.
Rusia nyaris terjebak dalam
hiperinflasi tahun 1992. Agar mencapai sistem pasar yang bekerja baik, harga harus distabilkan, Untuk melakukan hal
ini, pemerintah harus menemukan cara menuju anggaran berimbang dan mengontrol penawaran uang.
Peregulasi Harga dan Liberalisasi Perdagangan Agar dapat beralih dengan sukses dari perencanaan
sentral ke sistem pasar, harga individual harus dideregulasi. Sebuah sistem
harga yang bergerak bebas membentuk
dasar dasar sistem pasar. Ketika orang menginginkan lebih banyak barang daripada yang sekarang
diproduksi, harganya akan naik. Harga yang lebih tinggi ini meningkatkan Iaba produsen dan memberikan insentif bagi
perusahaan yang sudah ada untuk menambah
produksi dan bagi perusahaan baru untuk memasuki industri. Sebaliknya, jika
suatu industri memproduksi barang
yang tidak memiliki pasar atau barang yang tidak lagi diinginkan orang dalam kuantitas yang sama, hasilnya
adalah penawaran berlebih dan harga barang itu akan turun. Hal ini mengurangi laba atau menciptakan kerugian, yang
memberi insentif bagi beberapa perusahaan yang sudah ada untuk memotong produksi dan bagi lainnya untuk keluar dari bisnis.
Dengan
makin banyaknya pengangguran, dukungan rakyat pada reformasi cenderung turun
jika sejumlah jaring pengaman sosial
tidak dibentuk untuk mempermudah proses transisi. Jaring pengaman sosial ini mungkin meliputi asuransi pengangguran,
bantuan untuk orang miskin, serta bantuan
pangan dan papan. Pengalaman dunia maju memperlihatkan bahwa program seperti
ini berbiaya sangat mahal.
Bantuan
Eksternal Hanya segelintir pihak yang percaya bahwa transisi menuju sistem
pasar bisa dicapai tanpa sejumlah
dukungan dan pendanaan luar negeri. Amerika Serikat telah mendorong dukungan seluruh dunia untuk memberikan
miliaran dolar bantuan. Bantuan ini, kata banyak orang, akan membantu Rusia menstabilkan ekonomi makronya dan
membeli barang yang sangat dibutuhkan
dari luar negeri. Akan tetapi, kritikus di Amerika Serikat dan negara donor
potensial lainnya berkata bahwa
mengucurkan uang ke Rusia sekarang seperti mengucurkannya ke lubang hitam, tidak peduli berapa pun dana yang
kita sumbangkan, dampaknya pada reformasi hanya sedikit.
Terapi
Kejut atau Gradualisme? Meskipun para ekonom umumnya sepakat tentang apa yang perlu dilakukan olah perekonomian eks-sosialis,
mereka berdebat tentang
urutan dan waktu reformasi yang spesifik. Para penganjur
pendekatan gradual percaya bahwa arah terbaiknya adalah membangun lembaga pasar dulu, secara bertahap melepas
kontrol harga, dan hanya memprivatisasi usaha pemerintah yang paling efisien
dulu.
Orang yang lebih menyukai «terapi kejut» memberikan bukti nyata Polandia, yang bergerak cepat melalui fase reformasi awalnya. Pengalaman Rusia selama tahun-tahun pertama transisinya menunjukkan bahwa, setidaknya di negara itu, perubahan harus bertahap hingga tingkat tertentu. Dalam teorinya, stabilitas dan liberalisasi harga bisa dicapai dengan segera.
Case,
K. E. & Fair, R. C. (2007). Prinsip-Prinsip Ekonomi Edisi 8. Diterjemahkan
Oleh Y. Andri Zaimur. Jakarta: Erlangga
Komentar
Posting Komentar